Kreatifitas Kampung Salai Bersinar Samarinda Ulu Dalam Mengolah Sampah Bernilai 

Foto: Camat Samarinda Ulu Sujono, Bersama Forkopimcam dan Warga RT 22 Kelurahan Kampung Jawa Saat Melakukan Presentasi Di Depan Dewan Juri. Foto: (Harianetam.id/AS)
banner 120x600
banner 468x60

Samarinda, Harianetam.id – Kampung Sampah Bernilai (Salai) Bersinar yang berada di RT 22 Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu menjadi sorotan. Hal ini berkat inovasi warganya dalam mengubah limbah rumah tangga menjadi karya bernilai jual, sebagai langkah konkret dalam upaya menciptakan lingkungan bersih dan mandiri.

Camat Samarinda Ulu, Sujono, mengungkapkan bahwa Kampung Salai Bersinar akan mewakili kecamatannya dalam lomba tingkat Kota Samarinda yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Samarinda.

“Alhamdulillah, kita sudah masuk nominasi dan akan mengikuti lomba tingkat kota. Dalam hal ini, Kecamatan Samarinda Ulu diwakili oleh Kelurahan Kampung Jawa RT 22,” tutur Sujono.

Ia mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan program prioritas Wali Kota Samarinda yang menekankan pengurangan timbunan sampah. Pemerintah Kota menargetkan 50 persen dari total sampah rumah tangga dapat diolah kembali agar bermanfaat bagi lingkungan.

“Prinsipnya, sebelum sampah dibuang ke TPA, kita harapkan masyarakat bisa memilah dulu mana yang bisa dimanfaatkan dan mana yang tidak. Di RT 22 ini, konsep itu sudah berjalan dengan baik,” terangnya.

Program pengelolaan sampah di RT 22 tidak muncul tiba-tiba, warga sebelumnya sudah membentuk bank sampah yang melibatkan tiga RT sekaligus, dengan mengumpulkan dan memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke TPS.

“Dari situ, kegiatan berkembang setelah terbentuk bank sampah, statusnya meningkat menjadi Kampung Salai. Ini tahapan yang menunjukkan kemajuan dari sekadar menabung sampah, menjadi memproduksi barang bermanfaat,” sampainya.

Pihaknya mengapresiasi semangat masyarakat, menurutnya, keberhasilan Kampung Jawa RT 22 menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan sosial yang berdampak luas.

“Warga di sini sudah terbiasa memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang. Mereka sadar bahwa menjaga lingkungan itu bagian dari tanggung jawab bersama,” sambungnya.

Pihaknya berharap Kampung Salai Bersinar bisa menjadi role model kampung mandiri yang menginspirasi wilayah lain di Samarinda.

Sujono menegaskan, Pemkot Samarinda akan terus mendukung program Kampung Salai Bersinar ini melalui pembinaan serta pendampingan.

“Kalau bank sampah biasanya hanya mengumpulkan dan menjual, Kampung Salai ini sudah naik tingkat. Mereka mendaur ulang menjadi produk yang bisa dijual kembali. Ini langkah maju yang harus diapresiasi,” ujarnya.

Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan diolah menjadi kompos dan eco-enzyme. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kardus, dirubah menjadi kerajinan tangan seperti pot bunga, tas, dan vas berwarna-warni.

Lebih lanjut, terdapat sosok di balik kreativitas tersebut, yakni wanita bernama Siti Munawaroh, Direktur Bank Sampah Kampung Salai Bersinar. Ia menjadi motor penggerak sekaligus inspirasi bagi warga.

“Sekitar 90 persen persiapan kita sudah selesai, tinggal pasang saja. Semua hasil daur ulang ini warna-warni dan menarik,” ucap Siti.

Ia mengatakan, pengolahan sampah ini telah berjalan sejak tahun 2021. Berawal dari hobi kecil para ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok dasawisma.

Dari kegiatan arisan, menanam tanaman obat keluarga (TOGA), hingga membuat kerajinan sederhana dari limbah plastik, semuanya dilakukan dengan gotong royong.

“Waktu itu belum ada Probebaya, tapi kami sudah jalan sendiri. Begitu ada dukungan program pemerintah, kegiatan jadi makin berkembang. Kami ini, dasarnya suka membuat hal-hal baru,” jelasnya.

Produk buatan warga pun kini mempunyai nilai ekonomi. Salah satu produk terlaris yakni gantungan kunci hasil daur ulang.

“Kalau dijual satuan harganya tiga ribu rupiah, tapi kalau untuk acara atau pesanan banyak, biasanya lebih murah,” tambahnya.

Warga turut dilatih untuk memilah limbah dari kegiatan sehari-hari. Seperti pedagang minuman, diminta memisahkan botol plastik dan bungkusnya ke dalam kantong khusus agar bisa dikumpulkan ke bank sampah.

“Dengan begitu, semua ikut terlibat. Bukan cuma ibu-ibu, tapi juga anak muda dan pedagang kecil,” sambungnya.

Tidak hanya tentang kebersihan, tapi juga pemberdayaan warga secara sosial dan ekonomi. Setiap tanggal 15, kelompok dasawisma rutin berkumpul untuk kegiatan arisan dan evaluasi program.

Dalam setiap pertemuan, selalu ada inovasi baru mulai dari membuat kerajinan tangan hingga menanam tanaman herbal seperti daun mint dan stevia.

“Kami memang tidak mau berhenti di satu ide saja. Setiap bulan harus ada kreasi baru, tergantung usulan dari anggota. Kadang bikin pot, kadang bikin vas, tergantung bahan yang terkumpul,” ujarnya.

Setelah melakukan presentasi di depan dewan juri, Kampung Salai Bersinar kini bersiap menyambut kunjungan lapangan pada 21 Oktober 2025 mendatang.

Warga bergotong royong mempercantik lingkungan, menata hasil kerajinan, dan mempersiapkan spot edukasi tentang pemilahan sampah.

“Semua warga semangat. Kami ingin menunjukkan bahwa hasil kerja keras kami bukan hanya untuk lomba, tapi untuk kebaikan lingkungan jangka panjang,” sampainya.

Bagi warga Kampung Jawa RT 22, kemenangan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting tumbuhnya kesadaran tentang bagaimana sampah bisa menjadi sumber rezeki dan kebanggaan warganya.

“Kami ingin dikenal bukan karena kotoran sampah, tapi karena bisa menjadikannya sesuatu yang indah dan bermanfaat,” pungkasnya.

 

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *