Samarinda, harianetam.id – Seekor ular sanca kembang betina bernama Medusa mencatatkan sejarah sebagai ular terpanjang yang hidup di penangkaran.
Dengan panjang mencapai 7,67 meter dan bobot 158,8 kilogram, Medusa dinobatkan oleh Guinness World Records sebagai ular terpanjang di dunia yang hidup di bawah pengawasan manusia.
Medusa berusia 21 tahun dan tinggal di penangkaran The Edge of Hell, Kansas City, Missouri, Amerika Serikat. Ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan buatan dengan pengawasan ketat, asupan makanan teratur, serta suhu stabil.
Kondisi tersebut memungkinkan pertumbuhan tubuh Medusa mencapai ukuran ekstrem yang sangat jarang dijumpai di alam liar.
Sanca kembang (Malayopython reticulatus) dikenal sebagai spesies ular terbesar di dunia yang tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Tubuhnya yang kuat dan lentur menjadikannya predator puncak yang mampu memangsa hewan berukuran besar, berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.
Namun, populasi liar sanca kembang kini menghadapi ancaman serius akibat perburuan dan kehilangan habitat.
Kulitnya sering diburu untuk kebutuhan industri fesyen, sementara deforestasi di kawasan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi semakin mempersempit wilayah hidupnya.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa faktor lingkungan, ketersediaan mangsa, dan tekanan ekosistem sangat memengaruhi ukuran pertumbuhan ular sanca di alam.
Ukuran ekstrem seperti Medusa sulit tercapai di habitat alami karena risiko perburuan dan keterbatasan sumber makanan.
Selain ukurannya yang luar biasa, sanca kembang juga memiliki kemampuan reproduksi aseksual atau partenogenesis.
Kemampuan ini memungkinkan betina menghasilkan keturunan tanpa kehadiran jantan, sebuah adaptasi penting dalam kondisi lingkungan yang tidak mendukung perkembangbiakan normal.
Meski demikian, keragaman genetik rendah pada keturunan aseksual menjadi tantangan bagi konservasi jangka panjang.
Dengan populasi yang terus menurun, Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga habitat alami sanca kembang.
Upaya konservasi yang berkelanjutan menjadi kunci untuk melindungi spesies ini agar tetap lestari di masa depan.
Sumber: (Guinness World Records, Mongabay) Indonesia)










