Aliansi Masyarakat Kaltim Bergerak, Dirikan Posko Solidaritas Tolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Foto: Spanduk bertuliskan Soeharto bukan Pahlawan yang terpasang di Perempatan Lembuswana Samarinda. Sumber: (zul/harianetam.id)
banner 120x600
banner 468x60

Samarinda, harianetam.id – Penolakan terhadap wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto kian meluas hingga Kalimantan Timur.

Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kaltim Bergerak Jilid II mendirikan Posko Solidaritas Rakyat Kaltim di kawasan Mall Lembuswana, Samarinda, sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang mereka nilai mencederai semangat Reformasi 1998.

Para aktivis di posko tersebut menegaskan bahwa pemberian gelar kehormatan kepada Soeharto merupakan tindakan yang melukai hati para korban pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.

Mereka juga menilai keputusan itu bertentangan dengan cita-cita Reformasi untuk menegakkan keadilan dan demokrasi di Indonesia.

“Reformasi belum selesai! Tolak gelar pahlawan untuk Soeharto!” demikian seruan akhir dalam pernyataan resmi Aliansi Masyarakat Kaltim Bergerak Jilid II.

Foto: Posko Solidaritas Rakyat Kaltim yang didirikan di Kawasan Simpang Empat Lembuswana, Samarinda. Sumber: (zul/harianetam.id)

Pusat Koordinasi Gerakan Rakyat

Posko Solidaritas Rakyat Kaltim berfungsi sebagai pusat koordinasi gerakan, penggalangan dukungan publik, dan penyebaran informasi terkait aksi penolakan.

Selain itu, posko juga menjadi tempat logistik massa aksi, dapur umum, serta ruang aman bagi para aktivis yang mengalami intimidasi.

Melalui posko itu, masyarakat Kaltim menyampaikan tiga tuntutan utama:

  • Menolak tegas pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
  • Mendesak negara menuntaskan agenda Reformasi yang tertunda.
  • Melawan lupa terhadap pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Ajakan Aksi Damai di Samarinda

Rahmat Faturahman, Koordinator Lapangan Masyarakat Kaltim Bergerak Jilid II, mengajak seluruh warga Kalimantan Timur bergabung dalam aksi damai menolak gelar tersebut. Aksi dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 14 November 2025, di perempatan Mall Lembuswana mulai pukul 16.00 WITA.

“Kami mengajak mahasiswa, buruh, petani, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersatu mempertahankan marwah Reformasi. Hari ini, hak rakyat masih terpinggirkan, sementara pelaku pelanggaran kemanusiaan justru dijadikan pahlawan,” ujar Rahmat.

Ia menegaskan, perjuangan menegakkan nilai keadilan dan demokrasi bukan sekadar urusan politik, melainkan tanggung jawab sejarah bagi generasi mendatang.

 

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *