Samarinda, harianetam.id – Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menarik perhatian internasional.
Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Rusia, Arab Saudi, hingga Vietnam menyampaikan simpati dan menawarkan bantuan kemanusiaan.
Namun, Pemerintah Indonesia menolak tawaran tersebut dengan alasan masih mampu menangani dampak bencana secara mandiri.
Pemerintah Nilai Masih Mampu Tangani Bencana
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menjelaskan, pemerintah menolak bantuan internasional karena memiliki stok pangan dan BBM yang cukup untuk para korban.
Kendala utama saat ini ada pada distribusi bantuan, terutama di daerah yang masih terisolasi akibat infrastruktur rusak.
“Bantuan dikirim melalui udara menggunakan helikopter, sebagian dijatuhkan langsung dan sebagian dengan parasut,” kata Prasetyo, Rabu (26/11/2025).
Ia juga menyebut, pemerintah memiliki Dana Siap Pakai (DSP) dalam APBN senilai lebih dari Rp500 Miliar untuk penanganan banjir Sumatera.
Presiden Prabowo Subianto bahkan sudah memerintahkan agar anggaran ditambah jika situasi membutuhkan.
Belum Berstatus Bencana Nasional
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, menilai status bencana menjadi faktor penting dalam penerimaan bantuan luar negeri.
Menurutnya, banjir Sumatra belum ditetapkan sebagai bencana nasional sehingga keterlibatan asing belum dimungkinkan.
“Jika sudah ditetapkan sebagai bencana nasional, maka bantuan dari luar negeri bisa masuk resmi melalui mekanisme BNPB sesuai Undang-Undang No. 24 Tahun 2007,” jelas Abidin.
Dalam regulasi tersebut, seluruh bantuan internasional harus mendapatkan izin resmi dan melalui koordinasi pemerintah pusat untuk menjamin efektivitas dan akuntabilitas penyaluran.
Malaysia Jadi Negara Pertama Kirim Bantuan
Meski sebagian besar negara belum bisa menyalurkan, Malaysia menjadi satu-satunya negara yang berhasil mengirimkan bantuan medis untuk korban banjir di Aceh.
Bantuan seberat dua ton itu berisi dua juta keping obat dan alat kesehatan yang diterbangkan langsung menggunakan pesawat kargo dari Kuala Lumpur, 29 November 2025.
Bantuan tersebut disalurkan oleh Gomez Medical Services bersama tim kemanusiaan Blue Sky Rescue Malaysia dan diterima di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.
Menurut situs resmi Pemerintah Aceh, ini merupakan bantuan internasional pertama yang tiba pascabencana Siklon Senyar pada 22 November 2025.
BNPB mencatat, hingga Kamis (04/12/2025) pukul 06.25 WIB, korban meninggal akibat banjir di Aceh mencapai 277 orang dengan 193 lainnya masih hilang.
Pemerintah Salurkan Bantuan Hingga Rp107,6 Miliar
Sementara itu, pemerintah pusat terus menyalurkan bantuan bertahap untuk wilayah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Kementerian Pertanian mengirimkan logistik senilai Rp 34,8 miliar yang mencakup beras 25 ton, 35 ton minyak goreng, 38 ton gula, ribuan dus air mineral, susu, mie instan, sarden, dan pakaian.
Secara keseluruhan, total bantuan pemerintah hingga saat ini mencapai Rp 107,6 miliar.
Kementerian Sosial juga menyalurkan bantuan sebesar Rp 2,6 miliar, mendirikan dapur umum, serta menyiapkan santunan Rp 15 juta untuk korban meninggal dan Rp 5 juta bagi korban luka.
Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membantu dengan menyalurkan logistik tambahan serta menyediakan layanan internet Satelit Starlink di posko-posko pengungsian.
Pemerintah menegaskan upaya penanganan banjir dan distribusi bantuan masih terus berjalan di seluruh wilayah Sumatra yang terdampak.












