Samarinda, harianetam.id – Luka Modric menatap kosong ke lapangan San Siro. Ia berdiri di tengah medan pertempuran yang baru saja berakhir tanpa pemenang. Skor 2-2 melawan tim promosi Pisa terasa seperti kekalahan bagi AC Milan, tim yang datang dengan misi mempertegas posisi di puncak klasemen Serie A.
Hasil Imbang yang Terasa Seperti Kekalahan
Sejak menit awal, Milan tampil menguasai dengan agresivitas tinggi. Gol cepat Rafael Leao di menit ketujuh membangkitkan sorakan keras dari para tifosi, seolah kemenangan hanya menunggu waktu. Namun keunggulan itu berbalik menjadi frustrasi di babak kedua – penalti Juan Cuadrado membuka jalan bagi Pisa untuk menyamakan skor sebelum M’Bala Nzola membawa tim tamu memimpin di menit ke-86.
San Siro membisu. Hingga Zachary Athekame datang sebagai penyelamat pada menit ke-90+3 untuk menyelamatkan Milan dari kekalahan memalukan.
Luka Modric: “Kami Kehilangan Dua Poin”
Bagi Luka Modric, hasil ini lebih menyakitkan daripada sekadar imbang. Pemain berusia 40 tahun itu tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya di hadapan media.
“Kami seharusnya menghabisi mereka di babak pertama. Kami main bagus, tapi cuma mencetak satu gol. Kami kehilangan dua poin penting hari ini. Pertandingan seperti ini, dengan segala hormat buat Pisa, seharusnya dimenangi dengan mudah,” ujar Modric kepada Football Italia.
Kekecewaan Modric bukan tanpa alasan. Milan mencatatkan penguasaan bola lebih dari 65 persen, melepaskan 14 tembakan, namun hanya dua di antaranya yang mencapai sasaran.
Allegri: “Kami Butuh Ketenangan dan Kejelasan”
Pelatih Massimiliano Allegri tetap berusaha tenang menghadapi hasil pahit ini. Ia menilai timnya kehilangan fokus setelah unggul cepat.
“Setelah gol pertama, kami berhenti mengembangkan permainan. Kami tidak kompak dan sering meninggalkan ruang di lini tengah. Kami harus belajar menutup pertandingan lebih cepat dan tetap tenang ketika menguasai bola,” katanya kepada Sky Sports Italia.
Namun di balik nada diplomatisnya, Allegri tahu, hasil ini memberi tekanan besar. Posisi Milan di puncak klasemen kini rawan tergeser Napoli dan Inter yang sama-sama mengoleksi 15 poin.
Gilardino: “Antara Marah dan Bangga”
Di kubu lawan, pelatih Pisa Alberto Gilardino justru dibuat bingung oleh hasil ini. Ia mengaku tak tahu apakah harus marah karena kehilangan kemenangan di menit akhir, atau bangga dengan permainan anak buahnya yang menahan sang pemuncak klasemen di kandang sendiri.
“Kalau ada yang bilang kami akan bermain sebaik ini di San Siro, saya pasti langsung setuju. Kami menunjukkan keberanian dan karakter. Ini satu poin luar biasa yang memberi dorongan besar bagi kami,” ujarnya sambil tersenyum.
Narasi di Balik Frustrasi
Di akhir laga, Modric terlihat menunduk melewati lorong pemain – wajahnya datar, tapi langkahnya berat. Ia tahu betul, pertandingan seperti ini bisa menjadi pembeda di akhir musim.
Milan mungkin masih memimpin klasemen, tetapi hasil imbang melawan tim juru kunci mengingatkan mereka pada satu hal, dominasi tak selalu berarti kemenangan.
Dan bagi Luka Modric, yang datang ke Milan untuk membimbing generasi muda, malam di San Siro itu menegaskan kenyataan pahit, bahwa kepemimpinan kadang dimulai dari rasa kecewa.
Sumber: (sport.detik.com)










