Baru Sehari Jadi Menkeu, Purbaya Didemo BEM UI: Minta Presiden Segera Pecat

banner 120x600
banner 468x60

BEM UI Minta Presiden Segera Pecat Purbaya dari Mentri Keuangan RI

Samarinda, Harianetam.id Hari pertamanya menjabat sebagai Menteri Keuangan seharusnya menjadi momentum perkenalan kebijakan. Namun, Purbaya Yudhi Sadewa justru langsung berhadapan dengan gelombang protes mahasiswa.

Di depan gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi. Mereka membawa spanduk bertuliskan: “Copot Menkeu Purbaya, Jangan Biarkan Rakyat Dibungkam!”

Purbaya baru sehari resmi dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Namun, belum sempat mengumumkan arah kebijakannya, kritik tajam langsung datang.

Aksi mahasiswa dipicu oleh pernyataan Purbaya sehari sebelumnya yang menyebut “tuntutan 17+8” hanyalah suara dari sebagian kecil rakyat. Pernyataan itu dianggap meremehkan keresahan publik yang sudah lama berteriak soal inflasi, kesenjangan, hingga transparansi penggunaan anggaran negara.

“Bagaimana bisa seorang menteri yang baru sehari menjabat sudah menihilkan suara rakyat? Kami mendesak Presiden segera mencopot Purbaya sebelum kebijakan fatal lahir dari tangannya,” ujar Ketua BEM UI dalam orasinya.

Reaksi mahasiswa ini mengingatkan publik pada berbagai aksi kritis yang kerap mewarnai pergantian pejabat di sektor ekonomi. UI sendiri punya rekam jejak panjang dalam mengawal isu-isu fiskal sejak era Orde Baru, mulai dari protes kenaikan harga BBM hingga kritik terhadap utang luar negeri.

Bagi BEM UI, pernyataan Purbaya bukan sekadar salah ucap. Itu dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintah masih jauh dari sikap mendengar. “Kalau sejak awal sudah mengecilkan suara rakyat, bagaimana bisa kami percaya ia akan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas?” kata salah seorang koordinator aksi.

Di sisi lain, Purbaya sebenarnya sudah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. Ia menegaskan tidak bermaksud mengecilkan arti aspirasi publik, melainkan salah dalam memilih kata.

“Bukan sebagian kecil. Maksud saya, banyak masyarakat merasa susah ketika ekonomi tertekan. Kalau salah ngomong, saya minta maaf,” kata Purbaya.

Namun, permintaan maaf itu tak meredam aksi mahasiswa. Menurut mereka, seorang menteri sekelas Purbaya seharusnya lebih cermat berbicara. Apalagi, ia memegang kendali keuangan negara yang menentukan arah kebijakan fiskal, subsidi, hingga belanja publik.

Pengamat politik menilai, aksi BEM UI ini bukan hanya soal ucapan Purbaya. Lebih jauh, ini adalah cerminan krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah dalam mengelola ekonomi.

“Ketika masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, segala pernyataan pejabat akan ditafsirkan sebagai bentuk sikap pemerintah. Kesalahan kecil bisa jadi pemantik besar,” ujar seorang analis politik dari Universitas Nasional.

Menurutnya, aksi mahasiswa adalah peringatan dini. Bukan hanya untuk Purbaya, tapi juga untuk Presiden Prabowo. Jika pemerintah tidak merespons aspirasi rakyat dengan serius, legitimasi bisa terkikis sejak dini.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Gelombang protes terhadap Purbaya baru permulaan. Beberapa organisasi mahasiswa di kota lain kabarnya sedang menyiapkan aksi serupa. Narasi “Copot Purbaya” bisa saja menjelma menjadi gerakan lebih luas jika tidak ditangani dengan bijak.

Sementara itu, publik menunggu langkah Purbaya. Apakah ia bisa membuktikan bahwa dirinya memang siap mendengar, atau justru akan terjebak dalam pola komunikasi yang kaku dan menimbulkan kecurigaan baru?

Satu hal yang pasti, sehari menjabat saja Purbaya sudah diuji. Dan ujian itu bukan sekadar soal angka-angka di lembaran APBN, melainkan tentang kemampuan seorang menteri keuangan membaca, mendengar, dan menjawab suara rakyat.

Baca berita investigatif, edukatif, inspiratif, dan informatif lainnya hanya di Harianetam.id

Penulis 

Zul Fadly Amir

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *