Gelombang PHK Terburuk dalam 20 Tahun, AI Picu Krisis Tenaga Kerja di AS

Foto: Ilustrasi PHK. Sumber: (Bloomberg Technoz/Asfahan)
banner 120x600
banner 468x60

Samarinda, harianetam.id – Amerika Serikat mencatat lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar dalam dua dekade terakhir, imbas dari percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah pola bisnis dan strategi efisiensi perusahaan.

Data firma konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas Inc. menunjukkan, total PHK di AS sepanjang Oktober 2025 mencapai 153.074 kasus.

Angka itu melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu dan menjadi rekor tertinggi untuk bulan Oktober sejak 2003.

Sektor teknologi dan logistik menjadi penyumbang terbesar dalam gelombang PHK ini.

“Banyak industri melakukan penyesuaian setelah lonjakan perekrutan selama pandemi. Namun, adopsi AI, penurunan belanja konsumen, serta kenaikan biaya operasional mempercepat langkah efisiensi,” ujar Andy Challenger, Chief Revenue Officer perusahaan tersebut, dikutip dari Bloomberg, Minggu (09/11/2025).

Challenger menilai para pekerja yang terdampak menghadapi tantangan besar untuk segera mendapatkan pekerjaan baru.

Kondisi itu berpotensi memperlonggar pasar tenaga kerja AS yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Sepanjang 2025, total PHK di AS sudah menembus 1 juta kasus, tertinggi sejak pandemi. Sementara rencana perekrutan perusahaan-perusahaan AS anjlok ke level terendah sejak 2011.

Perekrutan musiman hingga Oktober juga menjadi yang paling sedikit sejak 2012.

“Ada peluang perbaikan akhir tahun jika suku bunga turun dan pasar tenaga kerja membaik. Meski begitu, kami tidak memperkirakan lonjakan besar pada perekrutan musiman 2025,” kata Challenger.

Beberapa perusahaan besar melakukan restrukturisasi signifikan. Amazon.com Inc. memangkas 14.000 posisi seiring penggunaan AI untuk menggantikan pekerjaan manusia.

Target Corp. mengurangi 1.800 posisi atau sekitar 8 persen tenaga kantoran, sedangkan Paramount Skydance Corp. menghapus 1.000 posisi.

PHK juga dilakukan oleh Starbucks Corp., Delta Air Lines Inc., CarMax Inc., Rivian Automotive Inc., dan Molson Coors Beverage Co., dengan rata-rata pengurangan 9 persen dari tenaga kerja mereka.

United Parcel Service Inc. (UPS) bahkan memotong 34.000 pekerja operasional, termasuk pengemudi dan petugas penanganan paket, atau 70 persen lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

UPS menyebut, penggunaan sistem logistik berbasis AI dan otomasi sebagai alasan utama langkah efisiensi itu.

Sejumlah analis menilai PHK besar-besaran ini merupakan strategi perusahaan untuk menekan biaya dan menjaga margin laba di tengah penurunan permintaan dan tekanan tarif impor.

Banyak perusahaan yang sebelumnya mengandalkan kenaikan harga kini memilih efisiensi tenaga kerja sebagai alternatif untuk bertahan.

Tren tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pasar tenaga kerja AS, berbeda dengan pernyataan Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell yang menilai pendinginan pasar kerja masih “bertahap.”

Meski demikian, data ADP Research memperlihatkan adanya stabilisasi dengan tambahan 42.000 pekerja pada Oktober, terutama di sektor pendidikan dan layanan kesehatan.

Sementara itu, Revelio Labs melaporkan pengurangan total 9.000 posisi di seluruh AS, dengan penurunan terbanyak di sektor pemerintahan.

Firma itu juga mencatat lonjakan pengajuan Worker Adjustment and Retraining Notification (WARN notice), menandakan restrukturisasi besar masih akan berlanjut dalam bulan-bulan mendatang akibat penetrasi AI di dunia kerja.

Sumber: (Bloomberg)

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *