Samarinda, Harianetam.id – Dampak efisiensi anggaran dari pemerintah pusat mulai dirasakan di daerah, yang semula nilainya mencapai Rp 2,7 triliun, turun menjadi Rp 1,3 triliun.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, menjadi salah satu yang terkena imbas terkait pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 56 Tahun 2025.
Kendati demikian, pemkot mulai memetakan langkah untuk menutup kekurangan anggaran. Salah satunya dengan pembentukan Samarinda Invesment Center, yang nantinya diharapkan bisa mengelola aset daerah untuk mencapai kemandirian fiskal.
“Sebab, ada banyak aset kita yang belum menghasilkan. Tanah-tanah pemerintah bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta agar memberi nilai tambah,” tutur Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Pihaknya juga akan mengoptimalisasi kontribusi badan usaha milik daerah (BUMD), serta melalui kombinasi disiplin anggaran dan inovasi pembiayaan lokal berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Disiplin Anggaran.
“Perumdam Tirta Kencana dan Varia Niaga akan kami dorong agar memberikan kontribusi lebih besar. Selain itu, banyak tanah pemerintah kota yang belum produktif, ke depan akan dikelola melalui Samarinda Investment Center bekerja sama dengan dunia usaha,” paparnya.
Pemkot memastikan, bahwa langkah mitigasi yang diambil tidak akan mengurangi tunjangan Aparatur Sipil Negara (ASN), namun lebih memprioritaskan pemangkasan pada belanja modal yang kurang mendesak.
Selain efisiensi dan inovasi PAD, pihaknya juga akan melakukan perhitungan ulang Dana Alokasi Umum (DAU) serta bagi hasil dengan pemerintah provinsi, termasuk potensi pendapatan dari jalur pipa gas yang melintasi Samarinda.
“Selama ini kita hanya menerima hasil perhitungan pihak lain. Ke depan, kami akan menghitung sendiri dengan data otentik agar penerimaan Samarinda lebih adil dan sesuai porsi,” ucapnya.
Melalui beberapa strategi, Pemkot Samarinda berharap bisa membangun kemandirian fiskal agar ke depannya tidak bergantung pada dana transfer pusat.
“Secara bertahap, pemangkasan itu juga sebagai introspeksi diri, bahwa kita harus kreatif dan inovatif. Terutama bisa mengurangi ketergantungan dari TKD nantinya. Kalau kontribusinya meningkat, berarti kinerja telah berjalan optimal,” pungkasnya.
















