Samsung dan Starlink Kolaborasi Kembangkan Chip AI untuk Koneksi Internet 6G Langsung ke Satelit

Foto: Ilustrasi Jaringan Satelit. Sumber: (Pinterest/abihakhan90)
banner 120x600
banner 468x60

Samarinda, harianetam.id – Starlink, penyedia layanan internet satelit milik Elon Musk, menggandeng Samsung Electronics untuk mengembangkan chip berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan perangkat pengguna terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada menara seluler.

Melansir The Korea Economic Daily, seorang eksekutif senior divisi semikonduktor Samsung dikabarkan telah bertemu dengan pejabat SpaceX guna membahas rincian teknis dan kemajuan proyek tersebut.

Sumber media itu menyebutkan, pembicaraan tengah berjalan agar Samsung dapat bergabung dalam rantai pasokan komponen jaringan 6G non-terestrial (Non-Terrestrial Network/NTN) SpaceX.

“Tujuan utama kerja sama ini adalah menghubungkan seluruh dunia melalui jaringan satelit Starlink,” ungkap sumber yang mengetahui negosiasi tersebut, dikutip Senin (3/11/2025).

Kemitraan ini merupakan langkah jangka panjang Starlink untuk mewujudkan jaringan komunikasi 6G NTN, teknologi yang memungkinkan koneksi internet tanpa infrastruktur darat.

Dengan sistem ini, perangkat seperti smartphone, router bisnis, hingga laptop di daerah terpencil dapat terkoneksi langsung dengan konstelasi satelit Starlink.

Berdasarkan dokumen internal yang diperoleh The Korea Economic Daily, divisi System LSI Samsung saat ini sedang merancang chip Exynos baru dengan unit pemrosesan saraf (neural processing unit/NPU) untuk mengoptimalkan koneksi satelit secara real-time.

Chip tersebut diklaim mampu meningkatkan akurasi deteksi sinyal hingga 55 kali lipat dan prediksi kanal 42 kali lipat dibanding versi sebelumnya.

Samsung menilai kolaborasi dengan Starlink sebagai upaya memperluas fokus bisnisnya dari pasar smartphone dan memori menuju pengembangan infrastruktur komunikasi masa depan.

“Langkah ini bagian dari strategi Samsung dalam menghadirkan jaringan generasi berikutnya,” ujar perwakilan perusahaan.

Starlink sendiri dilaporkan menyiapkan investasi sekitar 17 miliar dolar AS atau setara Rp257 triliun untuk pengembangan spektrum dan frekuensi layanan 6G NTN.

Para analis memperkirakan, pasar jaringan non-terestrial dapat menembus nilai 530 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.798 triliun pada 2040.

Meski demikian, sejumlah pakar menilai masih terdapat tantangan teknis, seperti efisiensi energi pada modem berbasis AI agar tetap hemat daya dan dapat diimplementasikan secara luas di perangkat portabel.

Sumber: (The Korea Economic Daily)

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *