Topan Kalmaegi Renggut 193 Nyawa di Filipina dan Vietnam, Kini Mengancam Kamboja

Foto: Jalur siklon saat ini melewati Filipina dekat kota Cebu. Siklon ini diprediksi melintasi Laut China Selatan dan kemungkinan mendarat kembali di Vietnam. Sumber: (Reuters)
banner 120x600
banner 468x60

Samarinda, harianetam.id – Topan Kalmaegi menyebabkan kehancuran besar di Asia Tenggara setelah menewaskan sedikitnya 193 orang di Filipina dan Vietnam.

Berdasarkan laporan resmi kedua pemerintah pada Jumat (07/11/2025), sebanyak 188 korban berasal dari Filipina dan lima lainnya dari Vietnam.

Badai tropis yang secara lokal dikenal dengan nama Tino itu kini bergerak ke arah barat menuju Kamboja dan Laos.

Topan menerjang wilayah tengah Vietnam pada Kamis malam dengan kecepatan angin mencapai 149 kilometer per jam.

Menurut laporan BBC News, ribuan warga Vietnam berlarian ke sekolah dan gedung publik untuk berlindung ketika angin kencang mencabut pepohonan, merobohkan atap rumah, dan memecahkan jendela.

Wilayah pesisir seperti Dak Lak menjadi daerah paling parah terdampak, dengan ratusan warga meminta pertolongan setelah rumah mereka hancur diterjang topan.

“Kami harus menjangkau daerah-daerah yang terisolasi dan memastikan warga memiliki makanan, air minum, dan kebutuhan pokok,” kata Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh dalam rapat darurat daring, dikutip dari media lokal.

Pemerintah Vietnam menurunkan sekitar 260.000 personel militer, 6.700 kendaraan, dan enam pesawat untuk mendukung operasi penyelamatan serta penyaluran bantuan.

Sejumlah bandara dan jalan tol ditutup, sementara ratusan ribu warga dievakuasi ke lokasi aman.

Foto: Kondisi ombak pantai di Cua Dai, Da Nang, Vietnam bagian tengah, pada Kamis (06/11/2025). Sumber: (BBC)

Sebelum menghantam Vietnam, Topan Kalmaegi lebih dulu memporak-porandakan Filipina. Hujan deras memicu banjir bandang dan longsor di wilayah tengah, termasuk Pulau Cebu.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menetapkan status darurat nasional setelah 188 orang tewas dan 135 lainnya dilaporkan hilang.

“Kami tidak punya rumah lagi. Kami tidak sempat menyelamatkan apa pun,” ujar Mely Saberon, warga Talisay, dikutip dari BBC.

Pemerintah Filipina dan Vietnam kini memfokuskan upaya pada pencarian korban serta perbaikan infrastruktur dasar seperti jaringan listrik dan pasokan air bersih sebelum badai bergerak ke arah Kamboja dan Laos.

Sumber: BBC News

banner 325x300
Keep In Touch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *